Rencana Transportasi Bali: Trem Ngurah Rai–Canggu dan Jalan Gilimanuk–Mengwi
Putra Petir Rental — Bali terus mengembangkan infrastruktur transportasi untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat dan wisatawan yang semakin tinggi. Memasuki 2027, terdapat sejumlah rencana besar yang menjadi perhatian, terutama pengembangan trem listrik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai–Canggu serta kelanjutan proyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Baca juga : Asian Games 2026: Saatnya Menyaksikan Ajang Olahraga Terbesar di Asia
Kedua proyek tersebut memiliki karakter yang berbeda. Trem diarahkan untuk memperkuat transportasi massal di kawasan Bali selatan yang memiliki aktivitas wisata dan mobilitas tinggi, sedangkan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi ditujukan untuk meningkatkan konektivitas Bali bagian barat dengan kawasan Badung dan sekitarnya.
Perkembangan ini penting diperhatikan, khususnya bagi masyarakat, pelaku usaha, wisatawan, maupun pengguna jalan yang rutin bepergian di Bali. Berikut perkembangan dan rencana yang diketahui hingga September 2026.
Rencana Transportasi Bali Terus Berkembang
Persoalan transportasi Bali tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jalan baru. Pemerintah juga mulai mendorong pendekatan yang lebih terintegrasi, mulai dari transportasi publik, jalan tol, peningkatan konektivitas antarkawasan, hingga pengembangan sistem transportasi yang memperhatikan kondisi lingkungan dan karakter budaya Bali.
Kementerian Pekerjaan Umum pada 2026 juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur Bali secara terintegrasi, termasuk konektivitas, perlindungan wilayah, dan dukungan terhadap pariwisata berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, dua proyek yang banyak dibicarakan saat ini adalah trem Bandara Ngurah Rai–Canggu dan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Trem Ngurah Rai–Canggu Ditargetkan Mulai Dibangun 2027
Salah satu bagian paling menarik dari rencana transportasi Bali adalah pengembangan trem listrik yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu.
Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menindaklanjuti kerja sama pengembangan transportasi perkeretaapian tersebut pada September 2026.
Menurut informasi resmi Pemerintah Provinsi Bali, moda yang direncanakan merupakan trem listrik berbasis baterai. Konsep ini berbeda dengan sistem MRT atau LRT yang umumnya menggunakan infrastruktur rel dan sistem kelistrikan tertentu. Trem yang direncanakan di Bali menggunakan teknologi baterai sehingga tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur.
Secara konsep, trem ini diarahkan untuk menjadi salah satu alternatif transportasi massal di kawasan Bali selatan yang memiliki tingkat aktivitas sangat tinggi.
Kapan trem Bali mulai dibangun?
Berdasarkan rencana yang disampaikan Pemerintah Provinsi Bali, groundbreaking trem Bandara Ngurah Rai–Canggu ditargetkan pada Maret 2027.
Tahap pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028, sementara seluruh koridor hingga Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029. Panjang jalur yang direncanakan sekitar 12 kilometer.
Perlu diperhatikan bahwa istilah "ditargetkan" penting dalam membaca informasi proyek infrastruktur. Jadwal pembangunan masih bergantung pada proses teknis, regulasi, kajian, koordinasi, dan tahapan pembangunan lainnya.
Dengan demikian, rencana 2027 sebaiknya dipahami sebagai target pembangunan, bukan berarti seluruh layanan trem sudah tersedia pada tahun tersebut.
Seperti Apa Konsep Trem Bandara Ngurah Rai–Canggu?
Trem ini dirancang bukan hanya sebagai sarana transportasi dari satu titik ke titik lain, tetapi juga sebagai bagian dari konsep mobilitas yang menyesuaikan karakter Bali.
Pemerintah Provinsi Bali menyebut aspek budaya, lingkungan, kehidupan masyarakat, akomodasi wisata, hotel, serta kawasan pariwisata perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan trase.
Teknologi baterai juga dipilih dengan pertimbangan lingkungan dan tingkat kebisingan. Pemerintah menyampaikan bahwa konsep tersebut diharapkan dapat menjaga kenyamanan masyarakat maupun wisatawan yang berada di sepanjang jalur.
Dalam laporan ANTARA mengenai kerja sama tersebut, trem diproyeksikan memiliki waktu tempuh sekitar 30 menit dengan interval keberangkatan sekitar 10 menit. Kapasitas layanan ditargetkan dapat mencapai hingga 60 ribu penumpang per hari atau sekitar 40 persen mobilitas kawasan.
Angka-angka tersebut masih merupakan bagian dari perencanaan proyek sehingga implementasi akhirnya tetap dapat dipengaruhi oleh hasil studi teknis dan tahapan pembangunan.
Mengapa Koridor Ngurah Rai–Canggu Menjadi Perhatian?
Koridor Bali selatan merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas wisata, akomodasi, perdagangan, restoran, dan mobilitas masyarakat yang sangat padat.
Bandara I Gusti Ngurah Rai menjadi pintu masuk utama wisatawan, sementara kawasan seperti Kuta, Seminyak, Kerobokan, hingga Canggu merupakan area dengan aktivitas wisata dan ekonomi yang tinggi.
Karena itu, pembangunan transportasi massal di koridor tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif selain kendaraan pribadi.
Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya menyampaikan bahwa pengembangan trem merupakan salah satu bagian dari upaya menangani persoalan kemacetan. Pada September 2026, ia kembali menyampaikan target pembangunan mulai 2027 setelah rangkaian persiapan dan regulasi berjalan.
Bagi wisatawan, perubahan sistem transportasi seperti ini juga akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipantau.
Jangan sampai ketinggalan informasi mengenai perubahan transportasi Bali, terutama jika Anda berencana mengunjungi kawasan Bali selatan dalam beberapa tahun mendatang.
Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi Juga Masuk Dalam Rencana Besar
Selain transportasi massal di Bali selatan, proyek besar lain yang terus dikembangkan adalah Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Ruas ini dirancang untuk meningkatkan konektivitas dari kawasan Gilimanuk di Bali bagian barat menuju Mengwi di Kabupaten Badung.
Menurut Kementerian PU, rencana Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi memiliki panjang sekitar 96,84 kilometer dan akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Namun, pembangunan tidak langsung dilakukan untuk seluruh panjang ruas tersebut sekaligus.
Tahap pertama yang menjadi prioritas adalah Ruas Pekutatan–Soka–Mengwi sepanjang sekitar 35,52 kilometer.
Kementerian PU menyebut tahap tersebut diprioritaskan karena kondisi lalu lintas eksisting di koridor tersebut lebih padat.
Apa Manfaat yang Diharapkan dari Tol Gilimanuk–Mengwi?
Salah satu tujuan utama pembangunan jalan tol ini adalah meningkatkan konektivitas serta menghemat waktu perjalanan orang dan barang.
Dalam penjelasan Kementerian PU, pembangunan tahap pertama Pekutatan–Soka–Mengwi sepanjang 35,52 kilometer diproyeksikan dapat memangkas waktu tempuh dari sekitar enam jam menjadi sekitar tiga jam dalam kondisi yang menjadi dasar perencanaan.
Selain mobilitas, pemerintah juga melihat adanya potensi pengembangan kawasan di sekitar trase.
Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum menyebut pengembangan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi diharapkan mendukung kawasan pariwisata dan agrowisata, pemerataan pembangunan, serta peningkatan daya saing ekonomi lokal. Pemerintah juga sedang mengkaji integrasi jalan tol dengan pengembangan kawasan atau land development.
Artinya, dampak proyek ini tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang melintas di jalan tol, tetapi juga dapat berhubungan dengan perkembangan kawasan yang berada di sekitar koridor.
Apakah Tol Gilimanuk–Mengwi Sudah Dibangun?
Informasi mengenai proyek ini perlu dibaca secara hati-hati karena prosesnya masih melalui beberapa tahapan.
Data resmi SIMPUL KPBU Kementerian PU menunjukkan adanya proses penyesuaian trase dan reviu studi kelayakan. Proses prakualifikasi juga sempat ditunda karena diperlukan reviu studi kelayakan akibat adanya pergeseran trase.
Dalam perkembangan terbaru, Kementerian PU menyebut tahap pertama yang dikembangkan adalah ruas Pekutatan–Soka–Mengwi. Pada September 2026, Kementerian PU juga melakukan peninjauan titik-titik strategis di sekitar rencana trase tersebut.
Kementerian PU menyatakan pengusahaan jalan tol akan dilaksanakan secara bertahap, dengan tahap pertama Pekutatan–Soka–Mengwi.
Sementara itu, data SIMPUL KPBU mencatat target dimulainya lelang pada Triwulan II 2027, dengan sejumlah proses teknis dan perizinan yang masih harus diselesaikan.
Jadi, masyarakat sebaiknya tidak menyamakan "rencana pembangunan", "lelang", "konstruksi", dan "operasional". Masing-masing merupakan tahap yang berbeda dalam sebuah proyek infrastruktur.
Trem dan Tol: Dua Pendekatan Berbeda untuk Mobilitas Bali
Jika dibandingkan dari fungsi dasarnya, trem Bandara Ngurah Rai–Canggu dan Tol Gilimanuk–Mengwi memiliki sasaran mobilitas yang berbeda.
Trem Ngurah Rai–Canggu lebih berorientasi pada transportasi massal kawasan Bali selatan. Koridornya berada di wilayah dengan aktivitas wisata dan kepadatan mobilitas yang tinggi.
Sementara Tol Gilimanuk–Mengwi berfungsi memperkuat konektivitas jalan dan pergerakan orang maupun barang dari Bali bagian barat menuju kawasan Badung.
Keduanya dapat menjadi bagian dari sistem transportasi Bali yang lebih luas apabila dikembangkan secara terintegrasi.
Pengembangan transportasi tidak hanya membutuhkan kendaraan atau jalan. Integrasi antarmoda, fasilitas pejalan kaki, akses menuju kawasan wisata, titik perpindahan moda, parkir, dan pengaturan lalu lintas juga akan menentukan bagaimana infrastruktur tersebut digunakan masyarakat.
Apa Artinya Bagi Wisatawan yang Berkunjung ke Bali?
Bagi wisatawan, perkembangan transportasi Bali dapat membawa perubahan pada cara bepergian di Pulau Dewata.
Jika trem Bandara–Canggu terealisasi sesuai target, wisatawan nantinya memiliki alternatif transportasi massal untuk koridor tertentu dari kawasan bandara menuju kawasan Bali selatan.
Namun, sebelum layanan tersebut benar-benar beroperasi, wisatawan tetap perlu menyesuaikan perjalanan dengan sistem transportasi yang tersedia saat itu.
Hal yang sama berlaku untuk Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi. Kehadiran jalan tol nantinya dapat mengubah pola perjalanan antara Bali barat dan Bali selatan, tetapi manfaat tersebut baru dapat dirasakan sesuai tahap ruas yang benar-benar telah selesai dan beroperasi.
Karena proyek infrastruktur membutuhkan waktu bertahun-tahun, informasi terbaru sebaiknya selalu diperiksa sebelum menentukan rute perjalanan.
Perubahan Transportasi Bali Perlu Dipantau Mulai Sekarang
Bali sedang memasuki periode penting dalam pengembangan infrastrukturnya.
Trem listrik Bandara Ngurah Rai–Canggu memiliki target groundbreaking pada Maret 2027, dengan target operasi trase awal pada 2028 dan penyelesaian seluruh jalur hingga Canggu pada 2029.
Di sisi lain, Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi terus memasuki tahapan penyiapan, dengan ruas Pekutatan–Soka–Mengwi menjadi prioritas awal. Pemerintah juga masih melakukan penyempurnaan aspek teknis, trase, perizinan, dan skema pengusahaan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan transportasi Bali ke depan tidak hanya mengenai pelebaran jalan atau penambahan kendaraan, tetapi juga mulai mengarah pada kombinasi transportasi massal dan jaringan jalan dengan skala yang lebih besar.
Bagi masyarakat dan wisatawan yang sering bepergian di Bali, mengikuti perkembangan ini sejak sekarang akan membantu dalam merencanakan perjalanan pada tahun-tahun mendatang.
Kesimpulan
Rencana transportasi Bali memasuki tahap yang menarik dengan adanya pengembangan trem listrik Bandara Ngurah Rai–Canggu dan kelanjutan persiapan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.
Trem Bandara–Canggu ditargetkan mulai dibangun pada 2027, dengan groundbreaking yang direncanakan pada Maret 2027. Trase awal ditargetkan beroperasi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai pada 2029.
Sementara itu, Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi memiliki rencana panjang sekitar 96,84 kilometer dengan pembangunan yang dilakukan secara bertahap. Ruas Pekutatan–Soka–Mengwi sepanjang sekitar 35,52 kilometer menjadi tahap awal yang diprioritaskan.
Kedua proyek tersebut masih memiliki tahapan yang harus dilalui sehingga jadwal dan detail implementasinya tetap perlu mengikuti pengumuman resmi pemerintah.
Untuk wisatawan yang akan berkunjung ke Bali dalam waktu dekat, sistem transportasi yang tersedia saat ini tetap menjadi pertimbangan utama dalam menyusun perjalanan.
Butuh kendaraan selama berada di Bali? Putra Petir Rental menyediakan layanan rental mobil di Bali, termasuk fasilitas Gratis Antar Jemput Airport untuk memudahkan perjalanan dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai sesuai ketentuan layanan.
CTA: Untuk informasi unit, ketersediaan, dan pemesanan, silakan hubungi WhatsApp Putra Petir Rental melalui tombol WhatsApp di bawah artikel.
[ ???? HUBUNGI PUTRA PETIR RENTAL VIA WHATSAPP ]